February 21, 2009

MENYARING KELABU

Saya banyak menemukan kejadian ini di sekeliling saya. Namun saya akan mencontohkan diri saya sendiri, karena saya sendiri juga melakukan dan mengalaminya.

Dahulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dan awal perkuliahan, saya merupakan orang yang cukup mudah untuk mengeluarkan uang dari kantong atau saku celana saya untuk diberikan kepada orang-orang yang mengemis di pinggir jalan.

Namun, ketika suatu waktu, saya bertemu dengan seorang pria yang usianya hampir dua kali usia saya ketika itu. Disana dia menceritakan bahwa ada pengemis yang mengemis karena malas. Padahal rumahnya cukup bagus. Ada juga pengemis yang menyamar. Kondisi badannya baik dan sehat, namun berpenampilan layaknya orang sakit yang amat sangat perlu dikasihani.

Dari sana, pikiran saya mulai terbuka. Tidak lama setelah itu, saya juga menyaksikan di televisi, bagaimana seorang pengemis di ibukota, dengan wajah yang sengaja dikaburkan, menunjukkan cara membuat kerak bekas luka yang mengering. Orang tersebut melakukan itu ke kakinya dibawah sebuah jembatan besar, lalu muncul ke atas jembatan dengan luka di kaki yang palsu, dan berjalan terpapah-papah. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah membuat orang yang menyaksikannya menjadi kasihan dan bersedia memberikan sedekah. Bahkan saya juga sempat baca di salah satu koran bahwa seorang yang berprofesi menjadi pengemis di ibukota, setelah sekian tahun bisa membeli sebuah mobil!!!

Surprised? Pasti. Tapi bukan itu inti yang ingin saya bahas disini. Bukan pula mengajak anda untuk tidak memberikan sedekah buat orang miskin. Saya memang menyesal. Bukan menyesal lantaran telah dengan mudah memberikan sedekah buat mereka. Bukan pula karena saya menjadi pelit bersedekah gara-gara input tadi. Melainkan menyesal karena tidak menyaring "kelabu" yang menerpa saya.

Saya menyesal karena saya yang awalnya bermaksud baik dengan memberikan bantuan ke sesama yang kurang mampu, menjadi berubah hanya gara-gara input orang lain yang membuat saya hidup menjadi orang lain atau hidup dari kata-kata orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya pun memulai kembali kebiasaan saya dulu. Saya tidak memperdulikan lagi apakah orang yang saya bantu tersebut benar-benar layak atau tidak untuk dibantu. Selama saya memang benar-benar ingin memberi dan memiliki uang 'kecil' di saku celana saya, maka saya pasti akan langsung memberikannya, dan saya akan puas dengan sendirinya, karena itu memang worth it, dan dengan cara demikianlah saya menemukan surga saya.

Para pengunjung, sering sekali sifat baik kita menjadi berubah karena menerima input yang sebenarnya kurang cocok terhadap diri kita. Bukan hanya pada kasus cerita diatas, melainkan banyak lagi cerita dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan tanpa kita sadari, kita menjadi berubah. Berubah menjadi diri orang lain. Berubah menjadi apa yang orang lain mau atas diri kita. Perubahan itu akan senantiasa terjadi. Namun jika sampai menghilangkan identitas dan jati diri kita yang pada dasarnya baik menjadi kurang baik, tentu tidaklah bijak.

Namun saya kembalikan semua ke anda, karena hidup anda adalah milik anda sendiri. Begitu juga dengan mengunjungi blog ini, adalah keputusan anda sendiri. Mengikuti kata-kata di blog ini juga adalah pilihan bagi anda sendiri, karena pilihan memang adalah bagian dari hidup kita.

Salam Pembelajaran !

1 comments:

Anonymous said...

iya saya setuju dengan pendapat anda, memberi dengan hati ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. ^^
Berbagi kasih dengan siapapun jg.