November 12, 2008

YOU ARE WHAT YOU THINK

Shu Tong Poo merupakan seorang penyair muda yang senang belajar apa saja, termasuk ajaran Buddha. Guna memperdalam pengetahuannya tentang ajaran Buddha, Tong Poo pun belajar dari seorang guru Zen bernama Fou Yin.

Salah satu ikhtisar dalam ajaran Zen adalah meditasi, dan Tong Poo pun mempelajari cara-cara bermeditasi dari guru Zen tadi.

Suatu hari, sehabis meditasi, Tong Poo mencoba memperoleh penilaian dari guru Fou Yin terhadap posisi meditasi yang sedang ia lakukan.

“Guru, bagaimana menurutmu dengan posisi meditasi yang sudah saya lakukan ini?”

“Bagus sekali. Mirip dengan sang Buddha!”

Mendengar pujian itu, Tong Poo pun bangga.

Sepulang dari bermeditasi, Tong Poo pun menceritakan pujian yang dilontarkan sang guru padanya ke teman-temannya. “Guru Fou Yin berkata bahwa saya sudah mirip dengan sang Buddha, padahal menurut saya guru biasa-biasa saja.”

Setelah menceritakan kejadian tersebut ke beberapa teman-temannya, ia pun menceritakan kepada adik perempuannya setibanya dirumah.

Mendengar cerita itu, si adik, Shu Siau Mei – yang juga seorang penyair terkenal pada waktu itu – hanya tertawa bernada mengejek.

“Kenapa kamu tertawa,” tanya Tong Poo kesal.

“Bagaimana tidak tertawa. Kakak merasa bangga dikatakan mirip sang Buddha? Sebenarnya yang mirip sang Buddha itu adalah guru Fou Yin.”

“Siapa bilang? Buktinya, ia mengatakan cara meditasi saya sudah seperti sang Buddha. Sedangkan menurut saya cara meditasi yang dilakukan olehnya biasa-biasa saja, tuh.”

“Justru sebaliknya, kak. Isi hati guru adalah sang Buddha, makanya yang dilihat olehnya pada dirimu adalah sang Buddha. Sedangkan dalam hati kakak tidak demikian, sehingga yang kakak nilai pada guru juga memancarkan apa yang ada di dalam hati kakak.”

Mendengar itu Tong Poo hanya bisa terdiam malu dan menyesali tindakan membanggakan diri yang dilakukannya tadi.

Teman-teman pengunjung blog, bukankah kisah ini sering terjadi dalam kehidupan kita?

Saya juga pernah demikian, dan rasanya benar-benar tidak nyaman. Namun begitulah hidup. Tanpa 'ditampar' oleh orang lain, kita tidak akan tahu kalau kita lah yang sebenarnya harus banyak belajar.

Salam Pembelajaran !

0 comments: