November 13, 2008

ENOUGH!

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.

Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata 'cukup'. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang.
Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
'Cukup' jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandek dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata 'Cukup'.

Kutipan diatas sebenarnya amat baik, karena selain mengajari kita menikmati hidup, juga menyadarkan kita untuk menghargai apa yang sudah ada saat ini. Seperti yang tertera diatas, bahwa hendaknya kita tidak mengartikan cukup sebagai sebuah kemandegan atau stagnasi, namun suatu kondisi untuk mensyukuri apa yang sudah ada. Bukan melulu mengejar dan mengejar, melainkan mensyukuri dan menikmati apa yang telah ada di depan kita. Dengan demikian, berkah itu tidak akan pernah habis. Berbeda jika kita selalu ingin mengejar dan mengejar, maka tidak akan ada saat untuk mensyukurinya.

Cukup bukan berarti kita tidak bisa berkembang. Cukup dalam arti menikmati ke-kinian. So, bukan berarti stop atau mandek atau stagnan bukan? Malah sebaliknya, dengan kita bisa menikmati ke-kinian, setiap rejeki yang datang, akan senantiasa dapat kita syukuri.

Tidak jarang saya berhadapan dengan orang-orang yang tidak pernah puas dengan dirinya dan kehidupannya. Akhirnya, yang ada hanyalah keluhan dan keluhan yang keluar dari mulutnya. Entah bagaimana dengan pikirannya.

Saya sendiri amat mensyukuri apa-apa yang telah saya miliki saat ini. Keluarga, teman, mantan pacar, barang-barang pribadi, dll. Tanpa mereka, saya tidak mungkin bisa belajar dan menjadi seperti saya sekarang ini. Bisa dikatakan mereka adalah 'guru' bagi diri saya. Begitu juga dengan kejadian-kejadian pahit yang pernah melanda. Saking seringnya saya mengalami permasalahan, membuat saya tidak ingin lepas dari yang namanya masalah. Bahkan saya telah menganggapnya sebagai teman terbaik dalam hidup saya. Akibatnya, saya malah merasa saya lebih 'kaya' daripada orang kaya. Kekayaan yang tak ternilai...dan saya tidak mungkin bisa berharap lebih daripada yang saya miliki saat ini.

"Orang kaya bukanlah orang yang kekayaannya tidak bisa dihitung,
tetapi tidak bisa menghitung kebaikan yang sudah dilakukannya"...anonim


Salam Pembelajaran !

2 comments:

Hardy said...

Nice artikel. Tapi membuat saya bertanya-tanya nih.

Kapan kita mencapai puncak tangga jika kita sudah mengatakan 'cukup' di pertengahan?

Apakah manusia benar-benar mengetahui batas kemampuan mereka?

Yenty Hartanto said...

"hendaknya kita tidak mengartikan cukup sebagai sebuah kemandegan atau stagnasi, namun suatu kondisi untuk mensyukuri apa yang sudah ada"

dan mgkn ditambahkan..
jg sbg pemicu utk hidup yg lebih berkembang dan bernilai... ^^

so, bukannya stuck di tengah tangga, tp bs mensyukuri sdh ada di tengah tangga, dan terus melangkah ke anak tangga berikutnya..