November 11, 2009

DUNIA ANAK-ANAK

Beberapa hari yang lalu, ketika hendak keluar dari lokasi pembayaran rekening listrik di salah satu kantor PLN, saya berdiri berdampingan dengan dua orang anak kecil - seorang cewek dan seorangnya lagi cowok, yang usianya mungkin hanya berkisar 4-6 tahun. Kedua anak tersebut ditemani ibu mereka di pintu depan kantor pembayaran. Kami sama-sama berdiri berteduh didepan pintu, berhubung diluar tiba-tiba turun hujan dengan derasnya. Anak-anak terlihat sedang bercanda akrab dengan ibunya. Mereka sedang menunggu ayah mereka mengambil mobil dari tempat parkir.

Saya memperhatikan mereka, lalu tersenyum kepada mereka. Kebiasaan untuk senantiasa ingin tersenyum ini merupakan kebiasaan saya, yang entah mengapa, selalu saya lakukan kepada setiap anak-anak yang saya temui dimanapun saya berada, baik yang saya kenal maupun tidak.

Mungkin karena malu, salah satu diantara mereka tiba-tiba bersembunyi disebelah ibunya namun dengan mata mengintip melirik kearah saya. Saya pun tersenyum kembali, namun sambil melempar pandangan ke arah lain sembari menyiratkan kalimat: "Betapa menyenangkannya dunia anak-anak."

Tidak lama berselang, mobil yang dikendarai ayah mereka pun berhenti tepat di depan pintu dan mereka bergegas melangkah, berlari kecil menuju mobil dan membuka pintu bagian tengah lalu dengan sigap masuk kedalamnya.

Yang membuat saya terkejut adalah, setelah mereka masuk kedalam mobil, mereka melambaikan tangan ke arah saya sambil tersenyum lepas. Lambaian yang bisa saya lihat dengan jelas karena kacanya yang transparan, membuat saya membalas lambaian tersebut dengan senyuman, namun kali ini dengan senyuman yang bebas lepas. Senyuman yang bisa saya maknai dengan: "terima kasih". Terima kasih karena telah tersenyum kepada saya, dan menghibur saya.

Pengunjung blog, entah kebetulan atau tidak, sekitar seminggu sebelum kejadian tersebut saya baru saja me-link berita di salah satu website berita terkemuka berbahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa: "anak-anak dapat tertawa sampai dengan 300 kali dalam sehari, berbeda kontras dengan orang dewasa yang hanya bisa 15 kali!" di facebook saya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, yang membedakannya hanyalah sudut pandang. Anak-anak dapat tertawa ketika menemukan atau melihat sesuatu yang menarik atau indah terjadi di depan mata mereka. Berbeda dengan kebanyakan orang dewasa yang senantiasa memandang segala sesuatu dari sisi yang lebih serius.

Saya teringat pada sebuah kutipan yang pernah saya baca dari sebuah buku bertemakan kebijaksanaan hidup, bahwa senyuman adalah kunci untuk membuka hati orang lain. Senyuman juga bisa melumerkan hati kita yang telah membeku akibat permasalahan yang terus menumpuk. Terlebih apabila kita senantiasa bisa tersenyum pada masalah yang menghampiri kita, maka kita bukan hanya bisa menembus zona psikologis manusia, namun juga zona spiritual, yang akan membuat kita serasa berada di dunia yang berbeda, meski pada saat yang bersamaan kita sedang dihadapkan pada permasalahan. Well, bukankah permasalahan adalah pendidikan yang tidak ternilai harganya?

Ditengah prahara keadilan terhadap pemberantasan korupsi yang tengah menguji bangsa kita saat ini dengan pergunjingan yang tidak jelas siapa benar dan siapa yang salah, mengapa kita tidak mencoba untuk melihat dunia dari sudut pandang anak-anak yang senantiasa bisa melihat keindahan, serta bisa tersenyum maupun tertawa lebar? Apalagi sebuah senyuman adalah 'obat' dengan rasa paling manis, sekaligus paling berkhasiat dari segala obat berasa manis yang ada?

Salam Pembelajaran!

October 20, 2009

IDEAL DALAM SEMALAM

Anda yang membaca judul diatas mungkin akan mengernyitkan dahi, membelalakkan sebelah mata, atau bahkan garuk-garuk kepala pertanda heran. Namun tidak salah dengan itu, karena judul diatas merupakan kiasan dari apa yang akan saya tuangkan dalam tulisan kali ini.

Saya pernah membaca bahwa menurut para pakar, bukan hanya bentuk fisik yang bisa menurun dari orang tua kepada si anak, namun juga sifat dan sikap, mengingat selain faktor genetika, kebiasaan manusia diusia kanak-kanak yang cenderung meniru orang-orang terdekat menjadi faktor pemicunya. Ini bukanlah rahasia, karena sejak dibangku SD kita sudah dijejali peribahasa, “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, atau “Buah senantiasa jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Namun perlu dicatat, bahwa faktor orangtua bukanlah yang menjadi pembentuk sifat anak di kemudian hari. Adalah apa yang dilihat, apa yang dihadapi atau dialami, dan terutama lingkungan atau dengan siapa si anak bergaul yang lantas kemudian menjadi penyebab utama yang membentuk sifat dan karakter seorang anak di kala ia menjadi dewasa.

Wajar saja, karena manusia memang memiliki kemampuan copy, paste dan edit, yang mana kemampuan tersebut kemudian juga tertuang dalam teknologi yang bernama komputer. Kemampuan melihat, mendengar, merasakan, mempelajari, dan kemudian merubah apa yang sudah diperoleh tersebut untuk diproses sebagai output atau notabenenya sebagai sifat, karakter, gaya hidup, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, itu semua WAJAR.

Itulah yang disebut proses. Dan kita bisa menjadi seperti kita sekarang ini karena adanya proses copy, paste dan edit yang terjadi dalam hidup kita. Maka dari pada itu, jika anda merasa hidup anda tidak memuaskan, berarti ada yang keliru dengan proses copy atau proses edit yang anda lakukan. Segera review kembali apa yang salah, lalu lakukan ulang tanpa terburu-buru.

Orang-orang hebat tidak melakukan hal-hal yang hebat dalam semalam. Mereka melakukannya dengan melalui serangkaian proses pengasahan fisik dan mental yang luar biasa.

Mereka yang meletakkan pondasi dengan tepat pada rumahnya, akan tetap dilanda angin kencang dan hujan badai. Namun karena pondasinya telah pas, maka kerusakan yang terjadi bisa diminimalisir dan bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Sebaliknya, orang yang membangun rumah tanpa pondasi yang kokoh, akan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk senantiasa menambal dan terus menambal kerusakan yang terjadi.

Saya dibesarkan dari keluarga yang sangat sederhana yang serba kekurangan. Dan harus saya akui, latar belakang ekonomi inilah yang sedikit banyak membetuk diri saya untuk senantiasa ingin cepat. Cepat punya banyak duit, cepat sukses, cepat ini dan cepat itu. Akhirnya, saya memang memperoleh banyak hal, tetapi jauh dari yang saya inginkan atau harapkan. Namun saya senang dan teramat bersyukur karena diberkahi dengan orang-orang luar biasa disekeliling saya, yang senantiasa memberikan saya kesempatan untuk meng-copy diri mereka, ataupun dengan sukarela mengkritik saya, sehingga saya selalu bisa mengedit diri saya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hal penting lain yang saya pelajari adalah bahwa pujian dan keluhan hanya akan membuat saya jalan ditempat. Bahkan cenderung mundur. Justru kritikan yang dapat menjadi cambuk untuk membuat saya bisa lebih baik lagi.

Dunia tidak bisa menjadi ideal dalam satu malam. Perlu ribuan, bahkan jutaan tahun lamanya untuk bisa menuju kepada dunia impian. Tapi itu pun belumlah cukup, karena manusia memang tidak mengenal kata puas dalam memory tingkah lakunya.

Apa yang ingin saya utarakan singkat, bahwa semua perlu proses. Seorang Sidharta perlu melalui berbagai penderitaan sebelum mencapai penerangan. Begitu juga dengan Yesus, Muhammad, dan guru-guru spiritual lainnya.

Seorang Bill Gates maupun sederet orang-orang terkaya dunia juga demikian. Perlu puluhan tahun lamanya untuk mencapai sebuah status.

Albert Einstein, Da Vinci, Michaelangelo, dll. juga demikian. Perlu ratusan hingga ribuan tahun lamanya untuk memperoleh sebuah pengakuan akan apa yang telah mereka kerjakan.

Bahkan emas dan batu berharga pun perlu diendapkan selama sekian waktu dalam suhu dan tekanan tertentu di dalam tanah sebelum bisa menjadi batu yang berharga.

Layaknya gambar lingkaran pada gambar diatas. Perlu ditarik garis melingkar secara perlahan untuk membentuk lingkaran. Terkadang sebagian garis perlu dihapus beberapa kali untuk membuat lengkungannya lebih baik. Setelah digambar ulang beberapa kali, baru akan mendekati bulat lingkaran, meski tidak akan bisa bulat utuh 360 derajat, apalagi dalam sekali gambar.

Proses. Dan proses itu tidak ideal dalam semalam.

Salam Pembelajaran!

May 8, 2009

SMALL STEPS

Sering kita berpersepsi bahwa untuk mencapai sesuatu, kita harus memiliki dan melakukan sesuatu yang besar. Pernyataan tersebut tidak keliru, namun tidak juga sepenuhnya benar.

Saya ingin mengutip sebuah pepatah Cina tentang langkah kecil untuk hasil besar yang berbunyi, sbb : “Manusia yang memindahkan gunung, memulainya dengan memindahkan batu-batu kecil...”

Seorang mother, bunda atau suster Theresa berucap senada, “Jika kita tidak dapat memberi makan seratus orang, beri makanlah seorang saja…”

***
Saya yakin kita semua telah mengetahui apa yang terjadi dengan alam kita selama beberapa dasawarsa terakhir ini. Perubahan iklim yang ekstrim akibat gaya hidup manusia telah menyudutkan masa depan kita ke titik nadir.

Belakangan, para ahli lingkungan menyuarakan perubahan atau musnah. Sesuatu yang tidak enak untuk didengar, namun mau tidak mau harus kita tempuh untuk menyamankan kembali mother earth tempat kita bernaung.

Ada 2 cara utama yang harus digerakkan secara cepat dan massal. Yang pertama adalah penghijauan. Ini sudah diketahui banyak orang. Oksigen yang dihasilkan tanaman dapat ‘menjanjikan’ penambalan lubang ozon, dan mengurangi gas Karbon dioksida (CO2) yang sudah terlampau berlimpah menghiasi langit di angkasa. Tetapi cara ini juga nonsense akan berhasil apabila kita masih ‘menyentuh’ hutan, atau dengan boros menggunakan hasil hutan.

Cara kedua adalah menjadi vegetarian, atau belakangan akrab disebut vegan. Dulunya saya beranggapan bahwa be a vegetarian itu bernuansa agamis, karena hanya dikumandangkan dan dilakukan oleh pengikut ajaran Buddha. Namun seiring pengenalan dan pendalaman terhadap dampak dan manfaat mengonsumsi veggie, meski saya tidak mengklaim diri saya adalah seorang vegetarian karena saya belum sepenuhnya vegetarian, namun saya amat menikmati mengonsumsi sayuran.

Lalu mengapa para pakar mengajukan vegetarian menjadi solusi untuk pemanasan global atau global warming? Jika diurutkan, be a vegetarian bukanlah berada di urutan kedua, melainkan pertama! Hal ini dikarenakan banyaknya lahan baru yang dibuka, yang utamanya difungsikan untuk peternakan. Coba cek berapa luas hutan hujan Amazon di Brazil yang amat terkenal itu dibabat untuk livestock.

Dan tahukah anda bahwa jumlah hewan ternak yang ada di seluruh dunia ternyata jumlahnya mencapai 50 persen lebih banyak dibandingkan jumlah populasi manusia yang berpijak di atas bumi ini? Parahnya lagi, kebanyakan hasil pangan, diperuntukkan bagi hewan! Tanpa harus kita amati dan cukup kita berpikir secara logis, bahwa sebenarnya kita telah menghabiskan banyak sumber makanan untuk diberikan kepada hewan ternak, karena kemampuan mengonsumsi makanan hewan ternak berkali lipat lebih banyak, baik dari segi kuantitatif maupun dari nafsu makannya dibandingkan manusia. Padahal, jika pakan-pakan ternak yang berupa sayur-sayuran itu diarahkan ke manusia, kita tidak perlu mendengar lagi berita tentang manusia yang menderita kelaparan.

Belum lagi kotoran atau buangan hewan amat berperan dalam menyumbangkan gas Metana dan Dinitrogen oksida, kandungan paling berbahaya dalam efek rumah kaca (green house effect), karena gas Metana (CH4) dan Dinitrogen oksida (N2O), masing-masing mampu menyerap panas lebih kurang 23 kali dan 210 kali lebih kuat daripada CO2, dan dapat bertahan di atmoster untuk waktu yang lama (puluhan hingga ratusan tahun lamanya). Data ini saya kutip dari National Geographic Indonesia, yang bahkan oleh teman saya dipertanyakan. Bagaimana jika faktanya ternyata lebih parah? Tidak tertutup kemungkinan, bukan?

Namun jalan keluar untuk ini bukanlah dengan membunuh atau membantai hewan ternak tersebut, namun mengubah gaya konsumsi kita dengan mengurangi ketergantungan terhadap daging. Gaya hidup konsumtif terhadap daging lah yang membuat banyak pengusaha tertarik untuk ‘menggarap’ uangnya pada sektor peternakan.

Maka daripada itu, mengingat dan melihat kondisi bumi kita yang sudah semakin tidak stabil dengan global warmingnya, saya ingin melengkapi ungkapan-ungkapan yang telah saya sebutkan diawal tulisan ini, dengan menambahkan beberapa lagi versi saya yang menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan kita, bahwa kita bisa mengubah ini semua. Tidak perlu secara drastis jika tidak bisa, tetapi cukup secara bertahap.

Jika tidak mampu membesarkan sebatang pohon, cukup dengan merawat sepucuk daun hijau...

Jika tidak sanggup menghijaukan lahan botak, cukup hijaukan pekarangan rumah saja...

Menjadi vegetarian adalah pilihan, tetapi menyelamatkan kehidupan adalah keharusan…

Semoga bermanfaat.

Salam Pembelajaran!